Tapi bagi Nazarrudin, Dwi Annang Setyono, dan Agus Nugroho, ketiganya mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes), kasus kecelakaan akibat problem pengereman menjadi tidak umum. Menurut mereka, permasalahan yang timbul akibat ketidaksempurnaan mekanisme rem dan cara pengereman dapat dikendalikan. Caranya adalah dengan memanipulasi mekanisme suatu rem yang dapat mensinkronkan kaki dan tangan untuk pengereman sehingga tercipta proporsi kekuatan yang pas.
Dari tangan mereka, lahir sebuah alat yang disebut inteligent Brake System (IBS), sebuah sistem pengereman terpadu antara roda belakang dan roda depan pada sepeda motor. ''Ini merupakan upaya pemecahan ketidaksempurnaan pengereman pada Sistem rem konvensional,'' ujar Nazarrudin.
Sistem rem sepeda motor pintar IBS adalah Sistem rem lock yang dapat mengombinasikan gaya rem yang seimbang antara roda depan dan roda belakang. Prinsip kerja rem ini adalah memanfaatkan torsi pengereman roda belakangan pada saat direm. Torsi pengereman yang dihasilkan oleh roda belakang dimanfaatkan untuk mengoperasikan rem roda depan. ''Hal ini dapat terjadi karena batang penahan panel rem tormol roda belakangan diganti dengan batang emi fleksibel,'' tambahnya.
Sistem IBS tentu sangat jauh dari cara kerja rem konvensional. Pada sistem ini, masing-masing roda menggunakan Sistem rem dengan sikuit terpisah. Artinya, pada rem konvensional membutuhkan dua kontrol yang terpisah untuk mengoprasikan kedua rem
Mereka bertiga sepakat menyebut rem IBS lebih unggul ketimbang rem konvensional dari segi harga dan keamanan. Prinsip kerja rem ini memanfaatkan

0 komentar:
Posting Komentar